Tuesday, November 17, 2009

Permainan Anak-anak

Kehabisan ide permainan anak ?

Kebetulan Bunda baru saja mendapatkan 4 buku permainan anak.
Masing-masing buku ada 90 jenis permainan anak. Wah jadi ada 4 x 90 = 360 jenis permainan anak !! :O

Sayangnya, bunda belum sempat mendokumentasikan foto 4 buku tersebut.

Dari buku tersebut, baru bunda ngeh permainan sekedar melompat dan bola bergulir cukup membuat Alma senang dan semangat hingga tertawa terpingkal-pingkal.

Bukankah golden moment ya membuat anak bahagia ?

Alhamdulillaah terbantu dengan adanya ide permainan dari 4 buku !

** Oia, bermain dengan si hamster elektronik (yang muncul di blog ini, boleh ambil flash dari internet) dia juga senang. Pegang mouse, klik kiri kasih makan, senang Alma melakukannya :D
Dan jadi surprise untuk sang Bunda, ... logh kog Alma sudah bisa pegang + mengarahkan + klik mouse ? :O

Wednesday, November 11, 2009

[terj] Pendidikan yang Pas

dari link mbak Andini (Semangat terus mbak !!)

Oleh Mariaemma Pelullo-Willis
http://www.the-tidings.com/2009/110609/willis.htm

Apakah Anda memaksa anak-anak untuk memakai sepatu yang tidak pas?

Lalu kenapa memaksakan pendidikan yang tidak pas?

Itulah yang sedang terjadi pada ratusan ribu anak-anak sekolah setiap hari, di sekolah negeri, swasta, dan program homeschooling. Anak-anak dipaksa memakai kurikulum buku teks/buku LKS tradisional tanpa kepedulian terhadap gaya belajar mereka, sama seperti anak-anak yang dipaksa memakai sepatu yang terlalu sempit, atau terlalu longgar sampai membuat mereka tersandung saat berjalan.

Pendidikan yang tidak pas mungkin bahkan lebih menyakitkan daripada sepatu yang tidak pas. Karena pendidikan yang tidak pas dapat melukai anak seumur hidupnya.
Beberapa dari pembaca mungkin tidak setuju. Sistem sekolah tradisional, jawab mereka, sudah ada untuk jangka waktu cukup lama, dan kebanyakan orang melalui masa sekolah baik-baik saja, bukan?

Apakah betul mereka baik-baik saja?

Tahukah Anda kebanyakan orang dewasa dicegah dari hal-hal yang bisa mereka lakukan atau ingin mereka lakukan karena pengalaman mereka di sekolah?

Tahukah Anda bahwa disebut lamban, pemalas, memiliki hambatan belajar, disleksia, ADD, atau bahkan berkemampuan rata-rata atau cerdas berbakat akan tinggal bersama Anda selamanya, dan mempengaruhi kepercayaan Anda tentang diri sendiri dan kemampuan Anda? Apakah Anda tahu bahwa orang-orang pada umur 40-an, 50-an, dan 60-an masih dikendalikan oleh pesan-pesan yang mereka terima semasa di sekolah, tidak perduli apa pun yang telah mereka capai dalam hidup?

Saya berpikir tentang seorang wanita yang berpikir dia tidak bisa maju dalam bisnisnya karena sewaktu di sekolah dia mendapat pesan bahwa dia tidak terlalu punya kemampuan. Masalahnya? Dia terus-terusan mengetuk-ngetukkan kaki dan tidak mau diam di kursi karena dia kinestetik dan perlu bergerak agar bisa belajar.

Seorang dewasa lain yang saya kenal menghabiskan bertahun-tahun dalam karier yang dia benci karena dia berpikir dirinya tidak cukup pintar untuk melakukan pekerjaan yang dicita-citakannya: mengajar. Orang-orang lain tidak bisa maju karena mereka bukan pengeja yang hebat, atau membaca bukan kelebihan mereka, atau menghapalkan itu sulit buat mereka. Lalu kenapa memangnya? Hal-hal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan sukses.

Faktor penentu sukses yang paling kuat adalah keyakinan bahwa Anda mampu dan bisa sukses. Tetapi, selama 13 tahun dari tahun-tahun formatif (pembentukan karakter) dalam hidup anak-anak kita, kita menekankan kesalahan, kegagalan, dan pengertian sempit tentang apa itu "pintar."

Anak-anak ini tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang bersedia menerima lebih sedikit dan tidak pernah mewujudkan potensial yang dimaksudkan Tuhan untuk mereka.

Berbagai kajian dilakukan beberapa tahun lalu mengungkap bahwa 95% anak-anak TK merasa yakin dengan diri sendiri dan bersemangat belajar; sebagai perbandingan, 2% anak-anak kelas 3 SMA merasa nyaman dengan diri sendiri. "Apa yang terjadi pada anak-anak di antara usia 5 dan 18 adalah mereka kehilangan semangat kreatif, semangat mempertanyakan sesuatu," kata Pedro Garcia, mantan pengawas Distrik Sekolah Corona-Norco Bersatu.

"Anak-anak perlu merasa aman. Kita perlu menciptakan rumah yang aman dan ruang kelas yang aman untuk mereka. Anak-anak perlu sering diberi semangat, diakui, didukung. Mereka perlu mengetahui bahwa mereka memiliki bakat dan kemampuan yang belum mereka temukan. Di atas segalanya, mereka perlu tahu mereka bisa sukses."

Terlalu banyak anak yang membayar mahal di dalam sistem pendidikan satu-untuk-semua dan sistem ujian, dan orang-orang berkuasa tidak mendengarkan ini. Anak-anak belajar secara berbeda; apa yang berhasil untuk sebagian anak, tidak akan berhasil untuk sebagian anak yang lain. Berapa lama lagi para pendidik mau mengakui kebenaran sederhana ini dan bertindak sesuai kebenaran ini?

Selama kita memaksa semua anak untuk mulai membaca pada usia 4 atau 5, memaksa semua orang untuk menggunakan buku teks dan LKS, dan memaksa semua pelajar untuk belajar dan diuji dengan cara yang sama, kebijakan 'tidak ada anak yang tertinggal' tidak akan terwujud. Banyak, banyak sekali anak yang akan terus ketinggalan, bersama-sama dengan orang-orang dewasa yang tak terkira banyaknya yang tidak mampu membalik kerusakan yang dilakukan terhadap mereka semasa sekolah.

Apa alternatif lainnya?

--- Hargai jadwal tumbuh kembang anak. Sadari bahwa anak-anak siap untuk belajar konsep yang berbeda di usia yang berbeda, bukan sesuai ketentuan negara.

--- Sediakan berbagai cara untuk anak-anak belajar dan melakukan tugas, seperti permainan, buku-buku yang direkam, perlengkapan prakarya, kegiatan membangun sesuatu, buku scrapbook, percobaan, dan demonstrasi.

--- Daripada melabeli anak secara destruktif, lihatlah gaya belajarnya. Sering kali, pembelajar melalui gambar dan praktek langsung diberi label disleksia, sementara pembelajar yang inventif dan/atau yang berpikir/mencipta dituduh ADD.

Anda bilang, tidak mungkin, dengan siswa seruangan penuh? Salah. Guru-guru terbaik telah menemukan cara melakukannya, meskipun dengan semua batasan yang dikenakan terhadap mereka. Dan jika Anda menerapkan homeschooling, menyesuaikan dengan gaya belajar anak Anda semudah menjentikkan jari!

Apabila kita bicara tentang kelas di sekolah atau pun homeschooling, jika tujuan Anda adalah kesuksesan belajar untuk setiap anak, Anda bisa melakukannya. Anda bisa menjadi Coach Kesuksesan untuk anak-anak dalam hidup Anda dan mengizinkan mereka untuk berkembang dengan cara-cara yang diniatkan Tuhan untuk mereka.###

Penulis adalah guru berkredensial di California dan bergelar master dalam Pendidikan Khusus. Dia menulis buku "Discover Your Child Learning Style" (diterbitkan Random House) dan
"Midlife Crisis Begins in Kindergarten" bersama Victoria Kindle Hodson.

Field Trip : ke Supermarket ;)

Iya, semalam, kami ke Supermarket di depan komplek.

Setelah mendapatkan sandal jepit untuk Alma di counter, Alma tiba-tiba berkata,"Terima kasih ya Bunda, Alma dibelikan sandal", sambil tersenyum manis.

Subhanallah :O ... Kami sampai bengong mendengarnya !

Bunda : "Iya Alma, sama-sama ya."

Kemudian, kami lanjut mencari barang lainnya di dalam supermarket.

O'ow, Bunda belum bawa keranjang belanjaan. Ah, minta tolong ke Alma ... apakah dia mau membantu ?? ;)

Bunda : "De, tolong ambilkan keranjang warna merah ya". Kebetulan keranjang merah tersebut tidak langsung terlihat oleh Alma.

Alma : "Di mana Bunda ?"

Bunda dan Ayah kompak : "Hayo Alma, jalan, lurus, ke kiri, nah lurus lagi di situ keranjangnya".

Alma berjalan sambil mendengarkan instruksi kami, kami tentu saja pelan-pelan memberitahukannya.

Alhamdulillaah, keranjangnya ketemu juga :D

Alma pun tertawa senang kemudian mengambil satu keranjang dan berlari-lari menuju bunda.

Alma : "Ini Bunda",

Bunda : "Terima kasih ya sayang. Pinter." :)

Kemudian kami berjalan-jalan di dalam supermarket.

Di rak obat, Alma mengambil sekotak obat merk A. Dia tertarik karena warnanya merah dan ada gambar stroberinya ;)

Karena Alma tidak terbiasa minum obat, maka oleh Bunda obat tersebut dikembalikan lagi ke rak.

Alma : "Bunda, bukan di situ",

Bunda : "Di mana De ?"

Alma : "Di sini logh, Bunda",

Bunda : "Oh iya, terima kasih ya Alma. Pintar ya" :)

Jadi, ceritanya Bunda sengaja meletakkan obat tersebut bukan pada tempatnya, melainkan ditaruh di deretan obat lainnya. Ternyata, Alma ngeh juga :D

Alhamdulillaah.

Kemudian, wah ada play dough alias lilin mainan, hmm dulu pernah punya tapi biasa deh setelah dicampur2 jadilah dibuang :(
Akhirnya diangkut deh play dough ke dalam keranjang. Alma senang sekali.

Setelah selesai berbelanja, Alma hendak dicium oleh Ayah tapi menolak. Kami pun bercanda," Hayooo, nanti mainannya dikembalikan lagi saja ya" ... hehehehe :D

Alma pun mencium Ayah :D

** Field Trip yang indah **

Monday, November 9, 2009

Kerja Bakti dan Ikan

Iya, Hari Minggu 8 November 2009, kami kerja bakti.

Ayah kerja bakti bersama Bapak2 tetangga di lingkungan rumah.

Nah, Alma dan Bunda, kerja bakti di dalam rumah :)

Ceritanya, pindahan fungsi kamar.

Alma sibuk membantu, misalnya :

- Memindahkan boneka Big Sapi (boneka sapi paling besar, bisa dinaikkin jadi sapi2an :P) dari kamar belakang ke kamar depan
- Barang2 lainnya ikut dipindahkan oleh Alma, ada sepatu2 Bunda, plastik2 isi benda "harta karun" juga kotak susu UHT Alma ;D
- Mendorong lemari bersama Bunda. Psssttt, Alma kuat jugal logh ! Lebih banyak tenaga dorong dari Alma dibanding dari Bunda :D

Tapi, tetap saja ... mau tahu ajaaaahhhh si Alma :D

Apa saja dia pegang, bertanya ini apa itu apa ... wah wah wah uji kesabaran bunda niy !

Sayang ya tidak sempat difoto niy bantuannya Alma kemarin :(

Nah, malamnya, setelah kerja bakti selesai serta istirahat yang cukup, kami jalan2 ke pasar malam dekat rumah.

Ayah cari kemoceng :)

Jadilah sampai di sana, Alma minta main pancingan, asyik sekali bermainnya bersama teman-teman lainnya :)

** Hanya bayar 1000 saja logh ^_^

Sesudah puas bermain, Alma pun mendapatkan se-ekor ikan kecil dari pemilik pancingan.

Wah Alma senaaaaaaaaangggg sekali !!!

Sesampainya di rumah, dia minta ikan dipindahkan ke tempat yang lebih luas.

Ikan sudah dipindahkan, kemudian diberi makan nasi (mudah2an doyan ikannya).

Sibuk deh jari jemari Alma mengintruksikan ikan agar makan nasinya.

Waduh Alma, ikannya nanti bisa stress loghhh :)

Saturday, November 7, 2009

Liburan ke Bandung bersama Eyang dan Pakde


Iya, Alhamdulillaah, Akhir Oktober lalu kami sempat berlibur ke kota Bandung.

Ceritanya ngekor ayah yang dinas ke sana.

Kami menginap di rumah peristirahatan (RUMIS) milik Bank Indonesia di Jl. Setiabudi (Terima kasih ya Om Adhitya atas kebaikan hatinya atas jatah penginapan 2 hari).

Turut serta Eyang dan Pakde.

Setelah 2 hari ngendon saja di dalam RUMIS (secara hujan melulu dan ayah dari pagi membuat bahan presentasi serta malamnya presentasi di client), akhirnya hari terakhir di sana kami sempat mengunjungi De Ranch.

Oia kalau foto yang di bawah ini, Alma bersama Eyang dan Pakde di dalam RUMIS ya :)

** Psssttt, perginya itu di hari kerja logh .. asik kan Alma bisa ikutan ke sana ke mari ;)

Buku dari Eyang Uti-nya mas Nugroho

















Semalam, Alma bercerita,"Bunda, Alma dikasih buku sama eyangnya mas Nugroho".

Bunda, "Alma sudah bilang terima kasih ke Eyang Uti ?"

Alma, "Sudah".

Terima kasih ya Eyang Uti dan mas Nugroho :)

Bukunya bagus sekali, ada gambar2nya dan terjemahan Bahasa Indonesia - Inggris - Mandarin (cmiiw).

Alhamdulillaah :)

Hadiah dari Tingkah Anak = Majalah Orbit


Alhamdulillaah sesuai pengumuman di sini, Alma mendapatkan Majalah ORBIT dari Tingkah Anak :)

Terima kasih :)

Hayo teman2 ikutan juga yuk, menjadi salah satu pintu untuk saling kenal juga kan ? ;)


Hi there, how are you ? ^_^