Showing posts with label Semangat Homeschool/Home Education. Show all posts
Showing posts with label Semangat Homeschool/Home Education. Show all posts

Monday, January 11, 2010

Penyuluhan Home Education ?

Istilah tersebut didapat dari komentar mba Andini pada blog Bundanya Alma :)

Berikut ini tulisan yang membuat mba Andini berkomentar demikian.

Alkisah, Bundanya Alma reuni dengan teman-teman sekelas masa SMP. Alma dan Ayah pun turut serta.

Ngobrol ngalor ngidul hingga sampai ke topik Home Education yang mana teman2 lebih mengenal istilah Home schooling :)

Iya, ada yang sampai terkagum2 (bleeeh :P) secara berkali2 komentar," Wah hebat-hebat" sehingga berkali2 saya koreksi,"Bukan hebat, tapi unik" ;)

Iya, rata2 bertanya :

"Gimana kurikulumnya ? Panduannya ?"

"Apa sudah legal ?"

"Logh terus gimana sosialisasinya ?"

"Gapapa tuh ga punya banyak teman ?"

"Trus gimana rapot dan ijazah ?"

"Ada kendala gak dari ortu dan mertua ? Trus suami gimana ?"

"Eh, kalau dia minta sekolah gimana ?"

"Selama ini dia gak minta ke sekolah Din ?"

"Ada guru datang ke rumah Din ? Diajarin apa saja ?"

"Bayar berapa siy kalau mau HS ?"

Huih banyak juga ya pertanyaan2nya ? :O

Alhamdulillaah, setelah diceritakan sedikit perjalanan Home Education kami, rata2 jadi berkomentar :

"Wah hebaaattt, hebaattt", (ini yang akhirnya saya koreksi berkali2,"Bukan hebat, tapi unik" sambil tersenyum).

"Anak gw dititip ke elo aja gimana Din ?" (tak jawab, "Iya ayo boleh2", kepedean banget ya Bundanya Alma :P). Iya, teman saya sampai berujar demikian setelah pertanyaan tentang legalnya Homeschooling, terjawab :)

"Oh iya", teman sambil manggut2 melihat Alma yang langsung akrab dengan Aufa (anaknya temen) dan beberapa anak kecil lainnya. Alhamdulillaah so far belum terlihat kendala sosialisasi mampir di Alma :)

"Wah syukur ya mertua dan ortu paham", pernyataan tersebut tercetus dari seorang teman setelah tak ceritakan bahwa pertama kali mertua memang bertanya-tanya dan kurang setuju, namun setelah melihat perkembangan Alma yang Alhamdulillaah baik-baik saja, alhamdulillaah memberikan restu beliau kepada kami. Dan jika ada yang tanya cucunya sudah sekolah atau belum, maka mertua dengan mantap menjawab,"Oh sudah, homeschooling" ;)Kalau orangtua saya sendiri, Alhamdulillaah sudah mendukung sedari awal.

"Enak suaminya sejalan pikirannya Din", (alhamdulillaah ^_^).

"Oh gitu ya, jadi usia 3,5 tahun belum perlu diajarin baca tulis ya ?", ups ini siy imho saya dan suami saja logh yaaaa, terserah untuk teman2 lainnya. Iya komentar tersebut tercetus setelah saya ceritakan bahwa memang sementara saya masih bekerja di kantor nah ada yang membantu membimbing Alma. Pembimbing tersebut datang hanya 2 kali dalam seminggu, yang mana sekedar menemani Alma untuk membacakan buku2 cerita, mengajarkan doa2, menemani mewarnai serta kegiatan kreatif lainnya.

"Jadi gak terlalu saklek ya homeschoolingnya ?", iya pernyataan tersebut terlontar setelah saya ceritakan bahwa terserah Alma mau sekolah formal atau homeschooling secara ada sebagian pengalaman teman2 yang tadinya sekolah formal malah berminat homeschooling saja ;) Iya semua terserah anak2 yang menjalani toh ? Kami sebagai ortu sekedar membimbing (ceile prekteiw). Dan so far, Alma memang pernah minta ke sekolah, tapi setelah ditanya kenapa ingin ke sekolah, ternyata tertarik dengan mainannya saja dan pakai seragam sekolah ;)

"Wah gak bayar ?", iya sampai melongo setelah saya ceritakan bahwasanya HS/HE tidak membayar karena sementara ini kami masih HS/HE tunggal. Sehingga dana yang ada bisa untuk membeli permainan, buku2, jalan2 dalam/luar kota, dll.

Alhamdulillaah, teman2 rata2 mendukung dan baru tahu kalau ternyata jumlah anak2 HE/HS sudah lumayan.

Logh tanpa sadar sudah mensosialisasikan apa itu HE/HS ya ? ;D

cmiiw.

Wednesday, November 11, 2009

[terj] Pendidikan yang Pas

dari link mbak Andini (Semangat terus mbak !!)

Oleh Mariaemma Pelullo-Willis
http://www.the-tidings.com/2009/110609/willis.htm

Apakah Anda memaksa anak-anak untuk memakai sepatu yang tidak pas?

Lalu kenapa memaksakan pendidikan yang tidak pas?

Itulah yang sedang terjadi pada ratusan ribu anak-anak sekolah setiap hari, di sekolah negeri, swasta, dan program homeschooling. Anak-anak dipaksa memakai kurikulum buku teks/buku LKS tradisional tanpa kepedulian terhadap gaya belajar mereka, sama seperti anak-anak yang dipaksa memakai sepatu yang terlalu sempit, atau terlalu longgar sampai membuat mereka tersandung saat berjalan.

Pendidikan yang tidak pas mungkin bahkan lebih menyakitkan daripada sepatu yang tidak pas. Karena pendidikan yang tidak pas dapat melukai anak seumur hidupnya.
Beberapa dari pembaca mungkin tidak setuju. Sistem sekolah tradisional, jawab mereka, sudah ada untuk jangka waktu cukup lama, dan kebanyakan orang melalui masa sekolah baik-baik saja, bukan?

Apakah betul mereka baik-baik saja?

Tahukah Anda kebanyakan orang dewasa dicegah dari hal-hal yang bisa mereka lakukan atau ingin mereka lakukan karena pengalaman mereka di sekolah?

Tahukah Anda bahwa disebut lamban, pemalas, memiliki hambatan belajar, disleksia, ADD, atau bahkan berkemampuan rata-rata atau cerdas berbakat akan tinggal bersama Anda selamanya, dan mempengaruhi kepercayaan Anda tentang diri sendiri dan kemampuan Anda? Apakah Anda tahu bahwa orang-orang pada umur 40-an, 50-an, dan 60-an masih dikendalikan oleh pesan-pesan yang mereka terima semasa di sekolah, tidak perduli apa pun yang telah mereka capai dalam hidup?

Saya berpikir tentang seorang wanita yang berpikir dia tidak bisa maju dalam bisnisnya karena sewaktu di sekolah dia mendapat pesan bahwa dia tidak terlalu punya kemampuan. Masalahnya? Dia terus-terusan mengetuk-ngetukkan kaki dan tidak mau diam di kursi karena dia kinestetik dan perlu bergerak agar bisa belajar.

Seorang dewasa lain yang saya kenal menghabiskan bertahun-tahun dalam karier yang dia benci karena dia berpikir dirinya tidak cukup pintar untuk melakukan pekerjaan yang dicita-citakannya: mengajar. Orang-orang lain tidak bisa maju karena mereka bukan pengeja yang hebat, atau membaca bukan kelebihan mereka, atau menghapalkan itu sulit buat mereka. Lalu kenapa memangnya? Hal-hal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan sukses.

Faktor penentu sukses yang paling kuat adalah keyakinan bahwa Anda mampu dan bisa sukses. Tetapi, selama 13 tahun dari tahun-tahun formatif (pembentukan karakter) dalam hidup anak-anak kita, kita menekankan kesalahan, kegagalan, dan pengertian sempit tentang apa itu "pintar."

Anak-anak ini tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang bersedia menerima lebih sedikit dan tidak pernah mewujudkan potensial yang dimaksudkan Tuhan untuk mereka.

Berbagai kajian dilakukan beberapa tahun lalu mengungkap bahwa 95% anak-anak TK merasa yakin dengan diri sendiri dan bersemangat belajar; sebagai perbandingan, 2% anak-anak kelas 3 SMA merasa nyaman dengan diri sendiri. "Apa yang terjadi pada anak-anak di antara usia 5 dan 18 adalah mereka kehilangan semangat kreatif, semangat mempertanyakan sesuatu," kata Pedro Garcia, mantan pengawas Distrik Sekolah Corona-Norco Bersatu.

"Anak-anak perlu merasa aman. Kita perlu menciptakan rumah yang aman dan ruang kelas yang aman untuk mereka. Anak-anak perlu sering diberi semangat, diakui, didukung. Mereka perlu mengetahui bahwa mereka memiliki bakat dan kemampuan yang belum mereka temukan. Di atas segalanya, mereka perlu tahu mereka bisa sukses."

Terlalu banyak anak yang membayar mahal di dalam sistem pendidikan satu-untuk-semua dan sistem ujian, dan orang-orang berkuasa tidak mendengarkan ini. Anak-anak belajar secara berbeda; apa yang berhasil untuk sebagian anak, tidak akan berhasil untuk sebagian anak yang lain. Berapa lama lagi para pendidik mau mengakui kebenaran sederhana ini dan bertindak sesuai kebenaran ini?

Selama kita memaksa semua anak untuk mulai membaca pada usia 4 atau 5, memaksa semua orang untuk menggunakan buku teks dan LKS, dan memaksa semua pelajar untuk belajar dan diuji dengan cara yang sama, kebijakan 'tidak ada anak yang tertinggal' tidak akan terwujud. Banyak, banyak sekali anak yang akan terus ketinggalan, bersama-sama dengan orang-orang dewasa yang tak terkira banyaknya yang tidak mampu membalik kerusakan yang dilakukan terhadap mereka semasa sekolah.

Apa alternatif lainnya?

--- Hargai jadwal tumbuh kembang anak. Sadari bahwa anak-anak siap untuk belajar konsep yang berbeda di usia yang berbeda, bukan sesuai ketentuan negara.

--- Sediakan berbagai cara untuk anak-anak belajar dan melakukan tugas, seperti permainan, buku-buku yang direkam, perlengkapan prakarya, kegiatan membangun sesuatu, buku scrapbook, percobaan, dan demonstrasi.

--- Daripada melabeli anak secara destruktif, lihatlah gaya belajarnya. Sering kali, pembelajar melalui gambar dan praktek langsung diberi label disleksia, sementara pembelajar yang inventif dan/atau yang berpikir/mencipta dituduh ADD.

Anda bilang, tidak mungkin, dengan siswa seruangan penuh? Salah. Guru-guru terbaik telah menemukan cara melakukannya, meskipun dengan semua batasan yang dikenakan terhadap mereka. Dan jika Anda menerapkan homeschooling, menyesuaikan dengan gaya belajar anak Anda semudah menjentikkan jari!

Apabila kita bicara tentang kelas di sekolah atau pun homeschooling, jika tujuan Anda adalah kesuksesan belajar untuk setiap anak, Anda bisa melakukannya. Anda bisa menjadi Coach Kesuksesan untuk anak-anak dalam hidup Anda dan mengizinkan mereka untuk berkembang dengan cara-cara yang diniatkan Tuhan untuk mereka.###

Penulis adalah guru berkredensial di California dan bergelar master dalam Pendidikan Khusus. Dia menulis buku "Discover Your Child Learning Style" (diterbitkan Random House) dan
"Midlife Crisis Begins in Kindergarten" bersama Victoria Kindle Hodson.

Hi there, how are you ? ^_^